Song

Sunday, March 24, 2013

Review Buku Ayahku (Bukan) Pembohong

" Bangsa yang korup bukan karena pendidikan formal anak-anaknya rendah, tetapi karena pendidikan moralnya tertinggal, dan tidak ada yang lebih merusak dibandingkan anak pintar yang tumbuh jahat "   
-Si Raja Tidur, Ayahku (Bukan) Pembohong-


Ayahku (Bukan) Pembohong adalah buku pertama karangan Tere Liye yang saya baca terus menerus sampai halaman terakhir, bukan karena saya penasaran dengan isi buku ini, tapi karena saya udah cukup lama ga baca buku fiksi, berhubung sekarang lebih hobi baca paper atau jurnal dan buku-buku kuliah, hehehe, yaah, setidaknya hasrat kangen baca buku cerita terpuaskan dengan baca buku karayan Tere Liye ini.

Ayah Dam, lulusan terbaik dari sekolah hukum terbaik di Eropa,yang memilh hidup sederhana dengan bekerja sebagai PNS ini merupakan orang yang sangat lihai bercerita, mempunyai banyak cerita hebat yang dia ceritakan kepada si anak. 

Cerita tentang El Capitano, Lembah Bukhara, Suku Penguasa Angin, keteguhan hati si raja tidur merupakan cerita-cerita hebat yang mampu menginspirasi Dam, anak yang biasa saja di sekolah, mampu melakukan banyak hal hebat di hidupnya. Karena cerita-cerita itu Dam tumbuh menjadi anak yang pantang menyerah, pandai, baik hati, dan berbakti kepada orang tua. Hingga di tahun kedua Dam melanjutkan sekolah di Akademi Gajah, dia menemukan buku-buku tua tentang kisah Lembah Bukhara, Suku Penguasa Angin yang detail ceritanya sama persis dengan yang diceritakan sang ayah, hingga Dam yang selalu percaya cerita ayahnya ini mempertanyakan tentang kebenaran-kebenaran cerita tersebut. Ayah Dam marah ketika Dam bertanya tentang kebenaran cerita ini, semenjak itu Dam menyimpulkan bahwa ayahnya berbohong dan ketidakpercayaan Dam semakin memuncak ketika ibunya meninggal, selama ini Dam tidak tahu tentang sakit kronis yang diderita ibunya, ayah Dam selalu mengatakan bahwa ibunya baik-baik saja.

Rasa tidak suka karena dibohongi membuat Dam memutuskan keluar dari rumah, tinggal di flat sewaan, terpisah dari ayahnya, memulai kehidupannya sendiri, dan hanya sesekali saja mengunjungi ayahnya. 

Saat dewasa, Dam menikah dengan teman masa kecilnya, Taani, mereka mempunyai dua anak bernama Zas dan Qon. Dam tidak mau anak-anaknya diracuni kisah-kisah bohong kakek mereka, maka saat Ayah Dam tinggal dengan keluarga kecil mereka, pertengkaran semakin meruncing, karena setiap malam sang kakek bercerita tentang kisah yang Dam dengar ketika ia masih kecil. 

Membaca buku ini berhasil membuat saya menangis, mengingatkan saya ketika berbeda pendapat dengan ayah saya, hal-hal bodoh yang saya lakukan karena tidak terima dengan saran beliau, apalagi membaca kalimat Taani, 
"Kau tahu, sembilan puluh sembilan persen anak laki-laki tidak pernah lagi mau memeluk ayah mereka sendiri setelah tumbuh dewasa. Padahal sebaliknya, sembilan puluh sembilan persen dari ungkapan hati terdalamnya, seorang ayah selalu ingin memeluk anak-anaknya" . 
Meskipun saya bukan laki-laki, tapi saya cukup terpukul membaca kalimat ini, saya merasa banyak yang tidak saya tahu tentang ayah saya.

Di beberapa bagian, cerita di buku ini sangat menyentuh, tapi saya agak kecewa sih dengan ending buku ini, penulis membuat semua cerita sang Ayah nyata, membuat semua tampak sempurna. Sebenernya saya berharap cerita-cerita yang diceritakan sang ayah memang cerita bohong, ngga ada kan manusia yang ga pernah bohong seumur hidup. Cerita akan lebih menarik kalau Sang ayah ini memang bohong tentang cerita-ceritanya, intinya bukan masalah bohong atau engga, tapi yang paling penting adalah, sang ayah bisa menanamkan nilai-nilai kebaikan dan motivasi kepada sang anak dari kecil dengan menceritakan cerita-cerita karangan yang hebat itu sehingga sang anak mampu melakukan hal yang luar biasa dalam hidupnya.

"Cerita-cerita ayah adalah cara ia mendidikku agar tumbuh menjadi anak yang baik, memiliki pemahaman hidup yang berbeda. Cerita Ayah adalah hadiah, hiburan, dan permainan terbaik yang bisa diberikan Ayah, karena hidup kami sederhana, apa adanya" -Dam-



No comments:

Post a Comment