Song

Friday, April 26, 2013

Manusia

Tadi malam sebelum saya tidur, saya mendengar berita salah satu ustadz terkenal di Indonesia, Uje, wafat karena kecelakaan motor. Saya terkejut, teringat beberapa tahun yang lalu, ketika masih di bangku sekolah, pada saat bulan puasa, tiap pulang sekolah saya melihat beliau mengisi acara di salah satu stasiun tv. Mendengarkan Uje mengaji, benar-benar bikin ketagihan. Yah, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan keikhlasan. Aamiin. 

Kematian tidak melihat apakah orang tersebut, sakit atau sehat, tua atau muda, kaya atau miskin, umur memang mutlak hanya Allah yang tahu, sekalipun kita berada di benteng yang kokoh dan megah, kematian tetap akan menghampiri, seperti dikisahkan dahulu kala ada seorang perempuan yang teramat takut akan kematian, kemudian dia membangun benteng yang megah dan kokoh sehingga dia bisa berlindung di dalamnya dari bahaya apapun yang dapat mengancam nyawanya, tetapi ternyata wanita tersebut meninggal hanya karena sengatan lebah yang berhasil masuk kedalam bentengnya, maka benteng kokoh tingginya pun tidak ada artinya ketika Allah berkehendak.

Mendengar berita duka Uje ini membuat saya tiba-tiba menjadi sedih, mendadak saya teringat tentang apa ketika saya "dipanggil" oleh Yang Maha Kuasa saya memiliki cukup bekal? Apakah sebelum saya meninggal saya bisa berguna untuk orang lain? 

Q.S. Al-Isra' 17: 12-15

(12) "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas."

(13) "Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatan di lehernya. Dan pada hari kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka."

(14) "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu."

(15) "Barangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesugguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul."

Wafatnya seseorang merupakan peringatan untuk manusia yang lainnya, kita menunggu antrian siapa duluan yang dijemput, untuk kembali dan berjumpa dengan Allah.

Teringat cerita salah satu teman saya, yang mempunyai kakak yang selalu melaksanakan salat tepat waktu. Begitu adzan terdengar, segera mengambil air wudhu lalu bergegas salat. Kakak teman saya ini adalah orang pertama di desanya yang menjadi dokter, kemudian masuk ke kemiliteran dan dalam waktu yang cukup singkat diberikan ijin untuk melanjutkan pendidikan dokter spesialis bedah saraf, normalnya pendidikan tersebut diselesaikan dalam jangka waktu 7 tahun, tapi kakak teman saya berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam waktu 5 tahun. Di kemiliteran pun karirnya juga bagus. 

Semua yang didapatkan kakak teman saya ini adalah seijin Allah SWT, cerminan sikapnya menjadikan dirinya bisa meraih hal tersebut. Terkadang manusia meminta banyak hal, berharap doanya didengar dan dikabulkan dalam waktu yang singkat, padahal perilaku yang kita perbuat sering tidak sesuai dengan yang seharusnya. Itupun teguran yang cukup keras bagi saya. Bagaimana saya berharap doa saya dikabulkan secepat-cepatnya padahal saya sering menunda-nunda waktu salat.

Seringkali kita bertindak tanpa berpikir panjang, berhitung tentang baik buruknya tindakan yang kita perbuat. Banyak hal yang kurang baik mungkin tidak kita sadari telah kita perbuat, saya sendiri mungkin orang yang cukup sering tanpa sadar membicarakan orang lain. 

Nasehat dari guru ngaji saya, "Hati manusia itu seperti cermin, lama-lama bisa jadi kotor, maka harus dibersihkan. Ini sama dengan iman kita yang naik dan turun. Terkadang berada di jalan yang benar, terkadang jauh dari yang benar, terkadang teringat dosa, dan seringkali tidak. Maka untuk membersihkan cermin yang kotor ini kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan cara, menjaga ibadah wajib, mengaji, mendengarkan ceramah, melakukan hal-hal yang disukai Allah SWT."

Semoga selama masih diberi kesempatan bisa menghirup udara ini, kita mengupayakan untuk selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik dan tidak lupa bahwa apapun yang kita lakukan selalu tercatat dalam amalan kita. Semoga upaya-upaya kita dicatatkan sebagai pemberat amalan kita di yaumul hisab nanti. Aamiin.